Kerusuhan Tanjung Balai Tantangan bagi Bhinneka Tunggal Ika


PT KONTAK PERKASA FUTURES – Kaukus Pancasila mengaku prihatin atas kekerasan berlatar suku, agama, ras & antargolongan (SARA) yg terjadi di Tanjung Balai, Sumatera Utara.

Diharapkan, pemerintah segera memulihkan situasi keamanan & memberikan perlindungan kepada para korban. Melakukan upaya serius untuk menegakan hukum kepada para pelaku & mempromosikan toleransi antar masyarakat.

“Kaukus Pancasila memandang bahwa kekerasan terhadap rumah ibadah dan barang milik komunitas Tionghoa di Tanjung Balai telah melukai rasa kebangsaan kita dan mencederai nilai-nilai Pancasila, khususnya Sila Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab serta Sila Persatuan Indonesia,” kata anggota Kaukus Pancasila, Eva Kusuma Sundari

tanjung balai pt kontak perkasa futures

PT Kontak Perkasa Futures – “Peristiwa tersebut menunjukan adanya tantangan terhadap kebhinekaan bangsa Indonesia, yg harus disikapi secara serius oleh segenap elemen Negara, khususnya Pemerintah,” tambahnya.

Eva menuturkan, Kaukus Pancasila memahami bahwa kekerasan yg terjadi di Tanjung Balai pada 29 Juli lalu didorong oleh kesalah-pahaman terkait volume pengeras suara masjid yg dirasa menggangu seorang warga berlatar etnis Tionghoa.

Namun yg disayangkan kemudian direkayasa sedemikian rupa melalui penebaran informasi yg palsu dengan tujuan mendorong kebencian dan kerusuhan, sehingga berakibat pada rusaknya rumah-rumah ibadah umat Budha yg disertai penjarahan.

“Kaukus Pancasila melihat bahwa ada dua permasalahan utama yg mendorong terjadinya kerusuhan, pertama; masalah yg terkait dengan pengeras suara, dan kedua; masalah yg terkait dengan siar kebencian,” tuturnya.

Politikus PDI Perjuangan itu menuturkan, terkait pengeras suara, Kaukus Pancasila memandang bahwa kegiatan keagamaan umat manapun tidak semestinya dilakukan secara berlebihan, seperti penggunaan pengeras suara yg mungkin dapat menggangu pihak lain.

Sejalan dengan pandangan Kaukus, Instruksi Dirjen Bimbingan Masyarakat Islam Nomor KEP/D/101/1978 telah mengatur bahwa penggunaan pengeras suara ke luar supaya tidak meninggikan suara yg berakibat pada hilangnya simpati pihak lain.

Dan hanya berlaku untuk panggilan azan, sementara untuk kegiatan-kegiatan keagamaan lainnya seperti doa dan khutbah hanya dibolehkan menggunakan pengeras suara ke dalam.

Anggota Kaukus Pancasilaa lainnya, Maman Imanulhaq menegaskan mengeraskan panggilan adzan jangan sampai hanya menimbulkan ‘polusi suara’ yg justru menimbulkan antipati umat agama lain.

Dikatakannya, panggilan Adzan sebaiknya dilakukan oleh muadzin yg bersuara merdu dengan menggunakan pengeras suara secara tidak berlebihan.

Maman menilai bahwa instruksi Dirjen Bimas Islam ini kurang tersosialisasi ke masyarakat. “Semestinya pengaturan pengeras suara dalam kegiatan keagamaan diatur dalam peraturan yg lebih tinggi agar lebih tersosialisasi dan dapat ditegakan lebih tegas,” ujar Maman.

Eva melanjutkan, ia memberi perhatian khusus terhadap beredarnya informasi palsu untuk mendorong kebencian dan kerusuhan.

Eva menuntut kepolisian untuk menindak pula pihak-pihak yg menyiarkan informasi palsu, sehingga mendorong kebencian yg berujung pada kerusuhan.

(Prz – PT Kontak Perkasa Futures)

No Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>