Kesehatan Jiwa, Jaga Sejak di Kandungan


PT KONTAK PERKASA FUTURES

Tumbuh Kembang Anak PT Kontak Perkasa FuturesPT Kontak Perkasa Futures – Tumbuh kembang fisik & psikis anak sangat menentukan masa depan mereka. Adapun perkembangan kejiwaan anak telah dimulai sejak dlm kandungan.

“Perkembangan kejiwaan anak bergantung pada faktor biologis, psikologis, & sosial,” ujar dokter spesialis kejiwaan anak Maria Poluan dlm seminar “Perkembangan Kejiwaan Anak Masa Kini”, di Jakarta.

Faktor biologis terkait perkembangan fisik anak sejak kandungan, sedangkan faktor psikologis & sosial dibentuk sejak dilahirkan.

Dokter spesialis kebidanan & ginekologi Bram Pradipta mengatakan, mencegah gangguan kejiwaan anak bisa sejak masa kehamilan, di antaranya memastikan asupan gizi lebih dari 900 kalori serta menghindari alkohol & rokok. “Ibu hamil juga disarankan mengonsumsi makanan mengandung asam folat untuk cegah kelainan otak,” ujarnya.

Alkohol, rokok, & paparan merkuri pada ibu hamil berisiko pada gangguan mental anak kelak, yakni attention deficit hyperactivity disorder (ADHD). ADHD adalah gangguan perkembangan pada anak, antara lain kurangnya kemampuan konsentrasi & cenderung impulsif.

Konsumsi obat tidak tepat saat hamil juga potensial mengganggu jiwa anak, misalnya obat antidepresan & anti epilepsi. Obat itu bisa mengganggu perkembangan saraf janin.

Setelah anak lahir, faktor yg turut berpengaruh adalah faktor psikologi dan sosial. Itu, antara lain, mencakup pola asuh orangtua, pengalaman hidup anak, & interaksinya dgn lingkungan.

Ketiga faktor, yakni biologi, psikologi, & sosial saling berhubungan untuk mengembangkan kejiwaan anak. Menurut studi Unicef tahun 2014, pertumbuhan otak anak tak hanya dipengaruhi gen, tetapi juga interaksi dengan dunia luar. Otak berkembang bersama pengalaman anak.

Pola asuh

Pola asuh menentukan kejiwaan anak. “Pola yg mengerti & memenuhi kebutuhan perkembangan anak sejak lahir membuat anak tumbuh & berkembang optimal,” ujar Maria.

Merujuk teori psikososial Erik H Erikson, pada usia 0-1 tahun, ikatan ibu & bayi akan menentukan perkembangan emosi anak. Usia 1-3 tahun, anak akan mengembangkan rasa otonom, ingin jadi diri sendiri. Pada usia 3-6 tahun, rasa inisiatif berkembang, & 6-12 tahun anak akan mengembangkan rasa industri, menjalankan tugasnya sesuai peran di keluarga & lingkungan.

Michael Wurdeman dlm studinya “Impact of Abuse Throughout a Child’s Psychological Development” menyebut, korban kekerasan pada masa kanak2x mengalami depresi, ketidakpercayaan diri, kemarahan, & kecemasan.

(Prz – PT Kontak Perkasa Futures)

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>