PT Kontak Perkasa Futures : Kisah Indonesia dalam Sapuan Kuas


PT KONTAK PERKASA FUTURES – Kecintaan Presiden Soekarno pada seni tak bisa diragukan lagi. Sekitar tiga ribu lukisan dikoleksi, baik atas nama pribadi maupun atas nama negara.

goresan juang kemerdekaan pt kontak perkasa futures

PT Kontak Perkasa Futures – Guna mengenang kegemaran sang Proklamator terhadap seni lukis, Presiden Joko Widodo menginisiasi a&ya pameran koleksi Istana Negara di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta, sepanjang Agustus 2016.

Pameran bertajuk 17|71: Goresan Juang Kemerdekaan tersebut menghadirkan 28 lukisan yg dibagi ke dalam tiga subtema, yaitu Potret erintis Kemerdekaan, Stuasi Masyarakat Era Revolusi, & Kenusantaraan.

Ketiga subtema tersebut disusun rapi agar memudahkan penonton melihat & memahami alur pameran.

Di zona pertama, pengunjung bisa menikmati lima lukisan potret pahlawan. Menariknya, empat dari lukisan tersebut merupakan pesanan khusus dari Ir. Soekarno.

Sebanyak 12 lukisan potret pahlawan ia pesan ke sejumlah pelukis, & empat di antaranya adalah Sujono Abdullah, Trubus Sudarsono, Gambiranom Suhardi, & Affandi.

Lima lukisan tersebut memiliki makna yg berbeda pula. Lukisan karya Sujono Abdullah, misalnya, hanya potret tampak depan Pangeran Diponegoro, namun lukisan ini cukup spesial.

Selama rentang waktu 1946-1949, lukisan ini selalu dijadikan latar dalam acara seremoni kemerdekaan. “Karena saat itu belum ada Pancasila,” ujar kurator pameran Mikke Susanto.

Se&gkan potret Pangeran Diponegoro yg dilukis adik Sujono, Basoeki Abdullah, adalah potret saat pangeran menunggangi kuda yg mengisyaratkan semangat perang. Lukisan tersebut dibuat Basoeki saat Konferensi Meja Bundar bersama Belanda.

Pun diakui sang maestro bahwa wajah Pangeran Diponegoro tidak ia lukis secara imajinatif. “Dia [Basoeki] pernah bilang, kalau lukisan wajah Diponegoro ini hasil pertemuannya dengan Nyi Roro Kidul, secara spiritual,” jelas Mikke.

PT Kontak Perkasa Futures.

Selain makna, teknik serta media yg digunakan pun berbeda. Lukisan H.O.S. Tjokroaminoto karya Affandi merupakan lukisan yg dibuat tanpa menggunakan kuas.

“Langsung tube cat-nya dipencet,” jelas Mikke.

Hanya saja, untuk kesempurnaan wajah HOS Tjokroaminoto, Affandi masih memolesnya dengan kuas. Menarik rasanya meman&gi lukisan ini.

Tak hanya potret sang pahlawan yg ia lukis, jika diamati dengan saksama, akan ada kaki yg terpampang.

Kaki tersebut, sebagaimana dijelaskan Mikke, merupakan salah satu objek penting yg selalu dilukis Affandi. “Itu menunjukkan rakyat biasa,” katanya. Lukisan tersebut dilukis pada 1947 di Yogyakarta.

Dua karya lainnya adalah potret R.A. Kartini karya Trubus Sudarsono, yg dilukis di Istana Yogyakarta, & potret Jenderal Sudirman karya Gambiranom Suhardi.

Di zona ke-dua, situasi masyarakat era revolusi, potret kehidupan sangatlah beragam. Mayoritas lukisan tersebut dibuat untuk mengisyaratkan kelamnya masa-masa itu.

Salah satunya adalah lukisan karya Harijadi Sumadidjaja yg berjudul Awan Berarak Jalan Bersimpang.

Di lukisan itu, ia menggambarkan langit sangat menyeramkan. Dengan warna-warna kelam & awan yg beriringan.

“Ini menunjukkan kalau orang-orang bingung harus ke mana. Ini kesengsaraan di era Revolusi,” jelas Mikke.

Lukisan Harijadi lainnya mendeskripsikan ketimpangan sosial di Jalan Malioboro, Yogyakarta. Ada masyarakat kaya, miskin, anak-anak, orang tua, orang mabuk, bahkan orang telanjang.

Semua orang-orang tersebut ia lukis dengan acak, namun masih mudah dipahami.

Lukisan lain adalah karya S. Sudjojono, yg menggambarkan pengungsi saat berlangsungnya Agresi Militer pada 1948.

Tak hanya itu, Sudjojono juga melukis seorang wanita yg diyakini adalah ‘teman’ Sudjojono, yg berkecimpung di dunia pelacuran. Menariknya, lukisan ini dikabarkan dilukis saat ia se&g berhubungan intim dengan si teman.

Kemudian di zona ke-tiga, Kenusantaraan, potret keindahan alam & ragam budaya Indonesia sangat kental. Tema ini dipilih karena keindahan Indonesia adalah sumber masalah penjajahan.

“Karena keindahan, budayanya, sumber dayanya, maka silih berganti orang ingin menjajah. Zona ini untuk menggambarkan keelokan itu,” papar Mikke.

Lukisan Surono dengan judul Ketoprak, merupakan salah satu yg paling menarik. Ini menampilkan suasana malam di sebuah tempat hiburan sederhana yg benar-benar menampilkan kebiasaan masyarakat Indonesia.

Di lukisan itu, dapat terlihat orang-orang duduk menonton pertunjukan, penjual es putar, kekasih yg se&g berpacaran, bahkan ada pula orang yg se&g buang air kecil di pohon.

Beberapa lukisan lain dalam zona ini adalah Pantai Karang Bolong karya Mahjuddin, Tara karya Srihadi Soedarsono, Fadjar Menjingsing karya Ida Bagus Made Nadera, Kehidupan di Borobudur di Abad ke-9 karya Walter Spies, Gadis Melayu dengan Bunga karya Diego Rivera, Penari-Penari Bali se&g Berhias karya Rudolf Bonnet, Empat Gadis Bali dengan Sajen karya Miguel Covarrubias, & Margasatwa & Puspita Nusantara karya Lee Man Fong.

Anda bisa menikmati ketiga zona ini pada 1-30 Agustus 2016 di Galeri Nasional Indonesia. Jika anda berminat untuk mendalami lebih jauh, anda bisa mengikuti tur galeri bersama kurator setiap hari Minggu pukul 10.00 WIB hingga 12.00 WIB & pukul 15.00 WIB hingga 17.00 WIB.

(Prz – PT Kontak Perkasa Futures)

No Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>