PT Kontak Perkasa Futures | Cinta dari Yogya untuk Papua


PT KONTAK PERKASA FUTURES – Insiden di Asrama Mahasiswa Papua Kamasan I Yogyakarta 15 Juli lalu bergaung ke seluruh negeri.

papua pt kontak perkasa futures

PT Kontak Perkasa Futures – Foto Obby Kogoya, mahasiswa Papua di Yogya yg lubang hidungnya ditarik & kepalanya diinjak saat insiden terjadi, langsung viral.

Menyebar sekejap di jagat maya, memicu kemarahan tak terkecuali sebagian warga Yogya sendiri.

Situasi kian runyam karena insiden diwarnai lontaran kata-kata rasialis dari para anggota ormas antiseparatis.

Tentangan terhadap tuntutan referendum Aliansi Mahasiswa Papua membuat asrama dikepung & penghuninya jadi sasaran cercaan.

Dalam hitungan jam, berbagai poster satire pun berkelebatan di media sosial. Bunyinya tajam. ?Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, & mengeluarkan pendapat… kecuali orang Papua.?

Seorang seniman di Yogya melontarkan kegusarannya di media sosial. ?Adalah hak di negara demokrasi bagi siapapun untuk menyampaikan pendapat di muka umum sebagaimana gerombolan prokeistimewaan pada tahun 2010 mengancam referendum bila pemerintah pusat tak mengakui keistimewaan DIY. Bukankah itu juga separatisme? Bila benar Yogya kota budaya, hentikan rasisme. Berhenti saling mengancam sikap politik sesama warga.?

Forum Solidaritas Yogya Damai langsung mengeluarkan surat terbuka berisi dukungan kepada orang Papua di kota mereka.

?Kepada yg tercinta, kawan-kawan di Indonesia Timur. Yogya sedang berkabung. Kedamaian sulit ditemukan. Dari Aceh hingga Papua… lahan direbut, kampung dicerabut, rakyat dibikin ribut. Kami tidak bisa menganggapnya biasa. Karena pada suatu hari yg nahas, untuk kesekian kalinya, berlapis-lapis pasukan bersenjata mengepung Asrama Papua. Mereka bukan hanya polisi melainkan milisi. Mereka meneriakkan makian. Kekerasan di rumah kita telah lama diabaikan. Nasionalisme kita haruslah nasionalisme yg berpijak pada kemanusiaan,? demikian petikan surat itu.

Usai insiden, sejumlah aktivis prodemokrasi Yogya bolak-balik keluar masuk Asrama Papua, mengecek kondisi penghuninya, memantau kabar soal rekan Papua yg diproses di Kepolisian.

Hubungan mereka erat bak saudara sendiri.

PT KONTAK PERKASA FUTURES – ?Kakak tadi ditanyai petugas. Katanya, ?Siapa itu yg setiap hari datang ke asrama??? ujar salah satu mahasiswa Papua yg baru tiba di asrama siang itu.

Ia baru pulang dari Markas Kepolisian Daerah Istimewa Yogyakarta untuk menengok kawan mereka yg ditahan saat insiden.

Mahasiswa Papua itu berucap setengah berbisik kepada kawannya dari gerakan prodemokrasi Yogya.

Sang kawan menimpali santai sembari tersenyum, juga dengan nada pelan, ?Oh ya, apa lagi kata mereka? Kamu jawab apa??

Gerakan prodemokrasi Yogya dekat dengan aktivis-aktivis Papua karena mereka kerap menggelar aksi bersama.

Keduanya tak senang dengan kelompok-kelompok intoleran yg menguat di Yogya, yg biasa membubarkan acara ini itu karena berbagai alasan.

Secara terpisah, Andrew Lumban Gaol, seniman kelahiran Medan yg kini tinggal di Yogya, berkata, ?Kita bisa mendukung kemerdekaan Palestina, kenapa tidak mendukung orang-orang Papua memilih nasibnya sendiri? Saya hanya berempati. Mestinya kita memahami perbedaan pandangan politik orang lain.?

Empati, bukan antipati

PT KONTAK PERKASA FUTURES – Kamis malam, 21 Juli, sepekan setelah insiden di Asrama Kamasan I, sejumlah mahasiswa Papua berkumpul di kediaman Bambang Purwoko, Ketua Kelompok Kerja Papua Universitas Gadjah Mada.

Pada saat yg sama, di rumah Bambang juga ada tamu istimewa, yakni staf khusus Presiden yg datang khusus untuk mengetahui persoalan yg dihadapi mahasiswa Papua di Yogya.

?Saat itu saya mau berangkat ke Jayapura & mengadakan pertemuan di rumah karena ada staf khusus presiden ingin berbincang dengan mahasiswa Papua. Cukup banyak yg datang, termasuk mahasiswa non-UGM,? kata Bambang di kediamannya, Sleman, DIY, Minggu (30/7), sesaat setelah tiba dari Papua.

Sebagai Ketua Pokja Papua UGM, Papua seperti rumah kedua bagi Bambang. Ia menjelajah Papua dari pantai hingga gunung, & menjadi salah satu tempat bertanya Kantor Staf Presiden, Keraton Yogyakarta, sampai Gubernur Papua tentang berbagai hal terkait Papua.

Bambang amat menyesalkan insiden di Asrama Papua. Menurutnya, hal itu memicu ekspose luas dalam jangka panjang, bahkan berpotensi memperburuk hubungan antarwarga di Yogya maupun Papua.

?Seharusnya semua pihak di Yogya belajar memahami bagaimana cara bersaudara dengan baik, hidup bersama secara humanis. Tidak perlu overacting. Mari terima saudara-saudara Papua dengan baik sebagaimana kita juga diterima dengan baik ketika berada di Papua,? kata dosen Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu Politik UGM itu.

?Saudara Papua harus dikasihi & dipahami. Harus dicari tahu apa yg mereka inginkan & kenapa demikian,? kata Bambang.

Ia mengatakan, kebutuhan dasar rakyat Papua saja hingga kini belum terpenuhi. Hal itu menyebabkan kekecewaan warga Papua terus berakumulasi. Persoalan Papua, ujarnya, tak semata politik, melainkan ekonomi dasar.

?Negara tidak hadir di hadapan masyarakat Papua. Mereka sulit mengakses pelayanan publik. Harga-harga barang di wilayah pegunungan sangat mahal. Semen Rp2 juta, air mineral 600 mililiter sebotol Rp30 ribu, air 300 mililiter Rp20 ribu, beras Rp50 ribu. Masyarakat miskin masih harus membayar mahal untuk kebutuhan dasar mereka,? kata Bambang dengan nada jengkel.

Sesungguhnya, ujar Bambang, hal tersebut telah dikomunikasikan berkali-kali kepada Presiden Jokowi. ?Beliau paham, tapi tak semua menterinya punya komitmen sama. Anggaran triliunan yg terserak di kementerian sering dialokasikan untuk hal-hal yg secara riil tidak menjadi kebutuhan masyarakat Papua.?

Maka letupan di Asrama Kamasan Yogya dinilai Bambang sebagai efek dari kumpulan kekecewaan atas apa yg terjadi di Papua.

?Tuntutan merdeka bukan cuma persoalan ideologi, tapi tidak terpenuhinya kebutuhan dasar masyarakat Papua,? kata dia.

PT Kontak Perkasa Futures – Bambang mencontohkan problem yg dihadapi sejumlah mahasiswa Papua di Yogya. ?Tak semua mahasiswa Papua melewati tahun pertama kuliah dengan mulus. Beberapa dari mereka, misal yg berasal dari gunung, kesulitan karena diperlakukan dosennya sama seperti mahasiswa lain pada semester awal. ?Review bab ini, kumpulkan pekan depan.? Dia tidak paham, tapi tak tahu mau konsultasi ke siapa. Tidak ada yg membimbing, lalu frustasi. Sudah adaptasi sulit, masih ditambah masalah stereotip sosial. Akhirnya lari ke minum-minum.?

Ia menegaskan, ?Melihat persoalan Papua, termasuk yg terjadi di Asrama Kamasan, tidak bisa menggunakan logika kita sebagai orang Jawa, Jakarta, Yogya. Bagaimanapun, mereka hidup dalam tradisi yg berbeda. Penting sekali untuk mengedepankan hati & empati.?

Dari latar belakang pendidikan saja, ujar Bambang, sebagian mahasiswa Papua tidak bisa dibandingkan & dipukul rata dengan pelajar dari daerah lain.

?Kondisi pendidikan di Papua secara riil buruk sekali. Anak-anak SMA belum bisa baca tulis itu wajar di sana. Sudah umur 16 tahun masih belum sekolah, lantas dimasukkan SD, langsung daftar kelas enam. Tidak pernah datang ke sekolah, tahu-tahu muncul menjelang ujian & minta harus lulus. Masyarakat memaksa, guru-guru tak berdaya, akhirnya dia lulus. Ijazah SD dipakai mendaftar ke SMP, masuk langsung kelas tiga. SMA juga begitu karena dari segi umur mereka sudah tua. Lalu masuk perguruan tinggi dengan sistem kuota.?

Banyak pengajar jadi serbasalah dalam mengajar & meluluskan murid. Seorang dosen di Papua, kata Bambang, pernah didatangi mahasiswanya.

?Bapak mau hidupkah? Mau kasih saya nilai B-kah? Kalau teman satu kampung dapat B, saya juga harus. Saya tra berani pulang kampung kalau tidak dapat B.?

Kondisi ini, ujar Bambang, masih terjadi sampai sekarang. Sebanyak 1.028 mahasiswa Papua yg kuliah dengan dana otonomi khusus pun, tak semua lulus dengan baik.

Seorang peneliti di Yogya menceritakan kenangannya dengan seorang kawan Papua. ?Aku punya teman sekelas dari Papua di kampus, namanya B. Dia selalu berkata, ?Jangan samakan aku dengan dia. Kalau aku pintar kayak dia, aku sudah jadi bupati di Papua.??

B berasal dari pedalaman Papua. ?Asal pakai sandal, celana terpasang, dia berangkat ke kampus. Tak pernah bikin makalah. Pernah dia bikin makalah, dosen berkata, ?Apa ini yg kamu tulis?? Dia lantas menjawab, ?Aku sendiri tidak mengerti, Bapak Dosen! Bagaimana aku bisa paham, masuk SD baru umur 13 tahun.??

Penting diingat, kata Bambang, mahasiswa Papua tak satu tipe. Mereka memiliki latar belakang sosial budaya beragam karena Papua & Papua Barat membentang luas, melebihi ukuran Pulau Jawa.

?Papua tidak terdiri dari satu suku. Ada 320 subetnis dengan 300 lebih suku & bahasa. Satu kampung bisa terdiri dari beberapa kelompok penutur bahasa yg berbeda. Sesama orang gunung saja macam-macam,? ujar Bambang.

Merangkul Papua

PT KONTAK PERKASA FUTURES – Direktur LKiS Hairus Salim, dalam akun Facebook-nya dua hari setelah insiden di Asrama Kamasan mengunggah kisah berjudul ?Suatu Hari yg Indah dengan Kakak-kakak dari Papua.?

Hairus bercerita, sekitar lima tahun lalu Yayasan LKiS mengundang kawan-kawan Papua ke empat SD Islam di pinggiran Yogya.

Saat itu LKiS menggagas kegiatan untuk memperkenalkan kemajemukan kepada anak-anak sekolah.

LKiS, akronim dari Lembaga Kajian Islam & Sosial, merupakan organisasi nirlaba independen dengan misi mewujudkan tatanan Islam transformatif yg berpihak pada keadilan, kemajemukan, & ke-Indonesiaan.

Semula, karena keterbatasan kendaraan & konsumsi, LKiS hanya mengajak empat kawan Papua. Namun ternyata yg datang lebih banyak. Mereka membawa motor sendiri & saling bonceng.

Enggak usah Bapak pikir soal transportasi & konsumsi. Kami bisa urus itu sendiri. Kitorang senang dengan ini acara,? kata salah satu kawan Papua saat melihat kekhawatiran LKiS soal logistik yg kurang.

Sampai di sekolah yg dituju, suasana masih agak kikuk, murid-murid masih malu-malu. Namun perlahan mereka & kakak-kakak Papua membuka percakapan & menari bersama.

Awalnya yg menari satu kelas, lalu satu sekolah termasuk guru-guru turun ke lapangan, kemudian warga kampung di sekitar sekolah juga ikut.

Obrolan juga kian seru. Seorang kakak Papua bercerita, sewaktu SD dia harus berjalan kaki 15 kilometer ke sekolah melewati sungai & bukit berbatuan. Jika dihitung jarak pulang pergi, ia berjalan sepanjang 30 kilometer.

Cerita Mahasiswa Papua Dukung Perjuangan Warga Yogya

PT KONTAK PERKASA FUTURES – Pertemuan kedua, ketiga, & keempat di tiga SD lain berlangsung kian semarak. Kakak-kakak Papua makin banyak yg bergabung. Murid, guru, orang kampung, semua senang. Acara sukses besar.

?Saling hormat & empati terbangun satu sama lain. Ngobrol bebas, lepas, membuat suasana akrab. Personalisasi itu penting, memperlakukan orang sebagai pribadi-pribadi, bukan sebagai rombongan dengan sejumlah prasangka & stereotip,? kata Hairus.

Masih banyak kasih berserak untuk Papua di Yogya.

(Prz – PT Kontak Perkasa Futures)

No Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>