PT Kontak Perkasa Futures | BI dan pemerintah siap hadapi kenaikan bunga AS


Kontak perkasa – Bank Indonesia (BI) dan pemerintah mengaku sudah mengantisipasi kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed yang kemungkinan dilakukan pada 13–14 Desember 2016. BI fokus pada cadangan devisa, sedangkan pemerintah kepada pengamanan defisit fiskal 2016.

Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Juda Agung bilang, kenaikan suku bunga The Fed telah diantisipasi jauh-jauh hari oleh BI. “Jadi bukan kejutan lagi,” katanya Selasa (13/12).

Amunisi BI saat ini terdiri dari dua basis pertahanan. “First line of defence adalah cadangan devisa yang lebih baik. Second line of defence berupa bilateral swap agreements yang ditingkatkan,” tambahnya.

Sampai akhir November 2016, cadangan devisa Indonesia tercatat turun US$ 3,5 miliar dari posisinya US$ 115 miliar pada akhir Oktober 2016 menjadi US$ 111,5 miliar. Penurunan terjadi seiring langkah BI melakukan stabilisasi nilai tukar rupiah.

Walau cadangan devisa turun, namun BI baru saja menandatangani perpanjangan bilateral swap arrangement (BSA) dengan Bank of Japan sebesar US$ 22,76 miliar. BI juga masih memiliki Bilateral Currency Swap Arrangement (BCSA) dengan Reserve Bank of Australia (RBA) senilai AUS$ 10 miliar atau US$ 7,3 miliar.

Pada November 2015, BI dan Tiongkok juga sepakat top-up BCSA dari US$ 15 miliar menjadi US$ 20 miliar. Sementara nilai BCSA dengan Korea Selatan US$ 10 miliar. Selain itu, menurut Juda, masuknya dana repatriasi amnesti pajak juga cukup untuk menopang cadangan devisa.

“Akan menambah tentunya, terutama bila dikonversi ke dalam aset rupiah,” jelasnya.

Jaga defisit dan inflasi

Sementara dari sisi fiskal, pemerintah juga akan mengambil peran dalam menjaga capital outflow. Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan (Kemkeu) Suahasil Nazara mengatakan, hasil konsensus menunjukkan kecenderungan kenaikan suku bunga Bank Sentral AS (The Fed).

Namun, pemerintah yakin dampak keputusan The Fed itu sudah diperhitungkan pasar melalui pergerakan kurs rupiah. Untuk menjaga agar capital outflow tidak terlalu besar, pemerintah akan menjaga realisasi APBN-P 2016, khususnya defisit anggaran.

Catatan Kemkeu, hingga akhir November 2016, defisit anggaran ada di level 2,4%-2,5% dari PDB, naik dari posisi akhir Oktober yang 2,14% dari PDB.

“Kami menjaga defisit tetap di bawah 3% dari PDB. Estimasi kami masih di 2,7% dari PDB,” kata Suahasil. Untuk menjaga defisit, saat ini, pemerintah terus memantau realisasi penerimaan pajak, bea cukai, dan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) serta penyerapan belanja. Pemerintah juga akan terus memantau dan menjaga inflasi tahun depan di titik 4% sesuai target APBN 2017.

Sedangkan untuk menambah capital inflow di tahun depan, menurut Suahasil, pemerintah akan menerbitkan surat berharga dengan kupon yang lebih atraktif, tetapi tidak membebani keuangan negara.

PT KONTAK PERKASA FUTURES

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>