Harga Minyak Tergelincir hingga 2 Persen, Wall Street Ditutup Turun | PT Kontak Perkasa Futures


Kontak Perkasa – Saham-saham di bursa AS ditutup melemah pada perdagangan Selasa waktu setempat atau Rabu (21/6/2-17) dini hari waktu Indonesia.

Pelemahan tersebut dipicu oleh anjloknya harga minyak sehingga merembet ke saham-saham sektor energi.

Selain itu, memerahnya Wall Street juga disebabkan oleh perhatian investor terhadap rencana Amazon.com yang akan memperbesar bisnis fesyen, serta kekhawatiran mengenai naiknya suku bunga acuan Federal Reserve.

Indeks Dow Jones Industrial Average ditutup turun 61,85 poin atau 0,29 persen menjadi 21.467,14. Sementara itu indeks S&P 500 kehilangan 16,43 poin atau 0,67 persen ke level 2.437,03 dan indeks Nasdaq melemah 50,98 poin atau 0,82 persen ke posisi 6.188,03.

Harga minyak anjlok hingga sekitar 2 persen setelah muncul berita mengenai naiknya suplai minyak oleh beberapa produsen komoditas tersebut. Hal ini merusak upaya OPEC dan negara-negara produsen minyak lainnya untuk menopang harga melalui pemangkasan produksi.

“Pasar berpikir harga minyak normal berada di kisaran 45-55 dollar AS per barel. Namun harga tersebut semakin melemah dan produsen minyak AS semakine efisien,” ujar Ken Polcari, Direktur O’Neil Securities.

Selain itu, pasar semakin melemah merespon komentar Presiden Dallas Federal Reserve Robert Kaplan mengenai pengetatan kebijakan moneter.

Pada penutupan perdagangan Kamis, indeks Dow Jones ditutup turun 0,07 [ersen ke level 21.359,90. Saham Nike menghuni posisi top losers dan General Electric menghuni posisi top gainers.

Kemudian, indeks S&P 500 turun 0,22 persen ke level 2.432,46. Sektor bahan baku mengalami tekanan terbesar di antara tujuh sektor lainnya. Sedangkan sektor utiliti menjadi sektor dengan performa terbaik.

Sedangkan indeks Nasdaq Composite juga tercatat turun 0,47 persen pada perdagangan saham Kamis, ke level 6.165,50.

Saham-saham Facebook, Amazon, Apple, dan Netflix semuanya ditutup di zona merah. Sementara saham Snap, ditutup turun 4,92 persen di level 17 dollar AS, yang merupakan harga saat penawaran saham perdananya.

Sektor teknologi mengalami kemunduran pada tahun ini, meski sektor teknologi pada indeks S&P dengan mudah mengungguli sektor lain dengan naik 18 persen sepanjang tahun.

Strategist Jefferies Sean Darby membandingkan perkembangan saham teknologi yang sekarang dengan kejadian penurunan tajam yang terjadi pada akhir tahun 1990-an.

Darby mencatat bahwa kedua periode memiliki tingkat inflasi dan tingkat suku bunga rendah, di samping ekonomi digital yang berkembang pesat. Tapi akhirnya hal itu tidak berakhir dengan baik.

“The Fed menaikkan suku bunga yang akhirnya menghilangkan pembiayaan murah yang menjadi faktor lonjakan teknologi,” kata Darby.(sumber:kontan.co.id)
Kontak Perkasa

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>